Sunday, 21 October 2012

asal mula cilangkahan

Adalah sosok Almarhum Ki Buyut Alijan bin Ki Buyut Asmunah atau ada pula yang menyebutkan Ki Buyut Asman. Pengembara dari kawasan Cigelung Kecamatan Jasinga-Bogor. Tepatnya hampir disekitar perbatasan Kabupaten Lebak dan Kabupaten Bogor.
Almarhum Alijan, adalah sosok yang hoby mengembara, dengan membawa keahliannya memainkan seni tradisional. Ahli seni dan pelaku sejarah ini, biasa berkeliling dari kampung ke kampung atau biasa datang kalau dipanggil untuk melakukan pementasan. Keahlian seni Ki Buyut Alijan adalah di bidang seni alat musik dari bambu, sejenis seni Angklung buhun.
Selain piawai dalam memainkan kesenian angklung, Ki buyut Alijan pun sangat mahir dalam ilmu kanuragan sejenis pancasona dan tapak sancang. Sehingga Ki Buyut Alijan selaian suka dipanggil untuk mentas seni, juga gemar melakukan tirakat kanuragan. Ki Buyut Alijan, biasa berkeliling (kalau zaman sekarang mungkin ngamen) dari kampung ke kampung untuk menarik masyarakat menonton atraksi seninya.
Dari Wilayah Cigelung, Ia berjalan mengembara melalui jalur terobosan Cipanas hingga Citorek dan Selanjutnya malang melintang di kawasan Cibeber dan Bayah. Selanjutnya ia selalu meneruskan perjalanan seninya ke arah barat. Saat berjalan ke arah barat, Ia tidak lupa untuk berhenti dan berteduh di sebuah saung pinggir jalan,  di sekitar kawasan Panggarangan sampai ke Cihara.
Konon, tempat pemberhentian Ki Buyut Alijan itupun selalu dijadikan ciri, sebagai tempat panyaungan, sehingga nama panyaungan pun menjadi sebuah nama desa di Kawasan Kecamatan Cihara.Dalam petualangannya, Ki Buyut Alijan sempat menikah dengan gadis asal panyaungan, yang namanya Nyi Uyut Euyeum. Mereka berumahtangga di kampong Panyaungan. Ki Buyut Alijan itu selalu diundang untuk melakukan pentas seninya di wilayah itu hingga ke Malingping. Ki Buyut juga selalu tinggal berdiam diri di sekitar Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping. Nah, Cerita Cilangkahan pun mulai bergulir di sini, yang mana saat ki Buyut Alijan itu menyebrangi sungai yang memotong antara Desa Pagelaran dengan Desa Cilangkahan ke Malingping. Sedangkan nama Pagelaran, berasal dari sebutan tempat di mana Ki Buyut Alijan sering mementaskan pagelaran kesenian di sana.
Konon, sungai itu sama sekali tidak memiliki jembatan, warga setempat biasanya menyebrang sungai dengan cara berenang atau naik rakit. Namun aneh, menurut yang punya cerita, justru Ki Buyut Alijan tidak melakukan itu, ia justru melakukan penyebrangan dengan cara melangkahi sungai itu. Maka orang sekitar pun mulai saat itu menyebut-nyebut sungai itu sebagai sungai Cilangkahan yang tepatnya di Kampung Cibayawak Desa Pagelaran.
Kalau Ki Buyut Alijan datang melangkahi sungai itu, biasanya di tempat sekitar melangsungkan pagelaran seni, di tempat ini, Ki Buyut Alijan selalu didatangi orang-orang dari berbagai tempat,  Diantaranya ada yang berguru seni ada pula yang berguru kanuragan atau hanya ingin mengenal saja sosok Ki Alijan. Sehingga lambat laun tempat itu pun berubah nama menjadi Kampung Gembrong, Artinya, tempat orang-orang berkerumun atau berkumpul mendatangi ki Buyut Alijan. Kampung Gembrong itu masih di kawasan Desa Pagelaran.
Di zaman kolonial Belanda, kawasan ini dikenal oleh kaum kompeni sebagai kawasan tempat di mana orang-orang punya ilmu kanuragan, sehingga kaum kompeni agak segan kalau bermasalah dengan warga dari kawasan ini. Menurut cerita, kaum kompeni selalu menemukan perkara yang tragis saat memiliki masalah dengan warga di sini. Maka bagi kalangan penjajah kawasan ini di sebut sebagai daerah hara, artinya panas seperti bara api. Sehingga lama-lama daerah ini pun bernama Cihara.
Di Zaman revolusi, kawasan ini sempat menjadi sentral pembagian kawasan Otorita pemerintahan untuk wilayah Lebak selatan. Tepatnya di Kampung Cilangkahan, itulah Kawedanan (Kantor pembantu bupati wilayah) pertama di wilayah Lebak selatan pun sempat didirikan, Sebelum Akhirnya kantor kawedanan itu berpindah ke Kota Malingping hingga tahun 2001.
Hingga akhirnya seiring dengan munculnya era reformasi dan gerakan otonomi daerah (Otda), istilah Kawedanaan dan birokrasinya pun terhapus dari arsip negara. Dulu Kawedanan Cilangkahan ini membawahi Tiga Kecamatan, yaitu, Kecamatan Malingping, Panggarangan dan Bayah. Sehingga dari nama Kawedanan Cilangkahan inilah, aspirasi warga lebak selatan untuk memperjuangkan daerah otonomi baru mengambil nama dari sejarah nama Kawedanan itu dahulu. Yaitu Kabupaten Cilangkahan.
Dari sinilah kita akan segera mengenal nama Cilangkahan dan perjalanan panjang sejarahnya itu bermula, Walaupun mungkin ini hanya sebuah cerita yang sempat membekas dikalangan pelaku sejarah di sekitar kawasan Lebak bagian selatan. Meski oleh para pelaku sejarah bisa dijustifikasi sebagai cerita legenda biasa, atau hanya alasan yang dibuat-buat oleh si pemilik cerita, karena bisa juga ini hanya sebuah legenda yang seolah-olah ditarik benang merahnya agar melekat dalam alur cerita yang bernama Cilangkahan. Tapi, Inilah cerita yang sampai kini masih melekat di memori mereka para pini sepuh tempo dahulu yang masih bisa diceritakan. Walahu'alam'bisawab.

2 comments:

ena mustari said...
This comment has been removed by the author.
ena mustari said...

menarik juga ,,low misalkan kita mw nyari sumber tentang sejarah cilangkahan,,apakah masih ada sumber yg bisa d dapat,,terutama dari orang cilangkahan itu sendiri,,

mohon infonya,,trimakasih

Post a Comment